share coffee, pastry, news, and love

Resume Buku Tipping Point, Malcolm Gladwell | Nov 08th 2007

Gladwell, Malcolm. 2002. Tipping Point. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
(Cetakan kedua, dengan isi 260 halaman.)
Resume:
Tipping Point adalah saat ajaib ketika sebuah ide, perilaku, pesan, dan produk menyebar seperti wabah menular. Sama seperti satu orang sakit dapat menyebabkan epidemi flu, begitu pula sentilan yang disasar dengan tepat dapat menyebabkan terjadinya tren fesyen, popularitas sebuah produk baru, atau menurunnya tingkat kriminalitas secara drastis. Buku Best Seller yang telah ditulis oleh Malcolm Gladwell menyelidiki dan secara brillian menjelaskan fenomena Tipping Point, telah mengubah cara berpikir orang di seluruh dunia tentang memasarkan suatu produk dan menyebarkan ide.
Gladwell memperkenalkan kita pada tipe-tipe kepribadian orang yang secara alami mampu bertindak sebagai penyebar ide dan tren baru, orang-orang yang menciptakan fenomena word of mouth atau ketok tular. Ia menganalisis tren-tren dalam dunia mode, merokok, acara televisi untuk anak-anak, direct mail, dan hari-hari pertama Revolusi Amerika untuk menemukan petunjuk-petunjuk tentang cara membuat sebuah ide menjadi sangat menular. Ia juga mengunjungi sebuah komunitas religious, sebuah perusahaan teknologi tinggi yang sukses, dan salah seorang penjual terbesar di dunia untuk menunjukkan cara memulai dan mempertahankan epidemi social.
Tipping Point merupakan kisah petualangan intelektual yang ditulis dengan semangat yang mudah menular dalam menggali kekuatan dan kebahagiaan dari berbagai ide baru. Yang paling penting, buku ini juga sebuah peta penunjuk jalan menuju perubahan, dengan sebuah pesan penuh harapan bahwa orang imajinatif, asalkan memasang tuasnya di tempat yang benar, tidak mustahil mampu menggeser bumi dari kedudukannya alias mengubah dunia.
Untuk mengenali Tipping Point lebih jauh, pertama-tama kita harus memahami epidemi terlebih dahulu. Karena Tipping Point adalah suatu epidemi sosial. Dan pada dasarnya suatu hal dinyatakan sebagai epidemi bila dia memiliki tiga kaidah khusus.
Tiga Kaidah Epidemi adalah : bersifat menular, perubahan kecil entah bagaimana membawa perubahan besar, dan ketiga, perubahannya tidak bertahap tetapi dramatis. Epidemi sangat terpengaruh oleh situasi, yaitu oleh keadaan, dan kondisi lingkungan kejadian. Epidemi itu sendiri adalah sebuah fungsi yang memiliki beberapa unsur yakni: orang yang bertindak sebagai agen penginfeksi, agen penginfeksi itu sendiri, dan lingkungan tempat beroperasinya agen penginfeksi. Dan ketika sebuah epidemi meledak, ketika keseimbangan tiba-tiba terganggu, ketika eskalasi meningkat setelah suatu kejadian, suatu perubahan telah terjadi pada satu (atau dua atau tiga) unsur tadi. Ketiga unsur perubahan ini disebut ”Hukum tentang Yang Sedikit”, ”Faktor Kelekatan”, dan ”Kekuatan Konteks”.
Hukum tentang Yang Sedikit: Keberhasilan suatu epidemi social sangat bergantung pada keterlibatan orang-orang yang memiliki seperangkat keterampilan sosial langka. Orang-orang ini adalah Para penghubung (Connectors), Para Bijak Bestari (Mavens), dan Para Penjaja (Salesmen). Kelebihan mereka ada dalam cara mereka bergaul, semangat hidup, dan keterampilan mempengaruhi orang lain.
Para penghubung atau The Connector adalah orang-orang dengan bakat khusus yang memungkinkan orang sedunia saling berhubungan. Kriteria pertama seorang Penghubung adalah bahwa mereka mengenal banyak orang. Mereka jenis orang yang kenal dengan semua orang. Setiap epidemi membutuhkan peran penghubung. Mereka dapat dengan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain, dan mudah menghafal nama dan karakter orang. Mereka tidak akan malu untuk berkenalan atau memulai pembicaraan dengan teman yang sudah sangat lama tidak bertemu atau orang yang baru saja mereka kenal.
Sementara Maven, berasal dari bahasa Yiddish, yang artinya adalah orang yang pintar atau orang yang memiliki pengetahuan sangat luas. Para Maven disini bukan pengumpul informasi yang pasif, juga bukan orang yang terobsesi pada suatu hal hingga menghafal setiap detail tentang hal tersebut. Para Maven adalah orang yang mempunyai informasi mengenai banyak produk, harga, atau tempat yang berbeda-beda. Orang ini senang membuka pertanyaan sesama konsumen dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Mereka senang menolong orang dan seringkali motivasi mereka bersifat sosial. Maven adalah seseorang ayng selalu ingin menolong orang lain, umumnya lewat memecahkan masalahnya sendiri. Para Maven memiliki pengetahuan dan keterampilan sosial untuk memicu epidemi ketok tular. Kendati demikian, buakn banyaknya pengetahuan yang mereka miliki melainkan cara mereka menyebarluaskan pengetahuan itu. Kenyataan bahwa para Maven selalu ingin membantu, dengan alasan hanya karena ingin membantu, bisa menjadi cara yang efektif skali untuk membuat orang lain tertarik.
Di sisi lain juga ada Salesman, yaitu orang-orang yang memiliki kemampuan membujuk yang sangat hebat, dan mampu mempengaruhi orang lain tanpa orang lain itu sadari. Para salesman ini mampu menjelaskan dengan logis alasan kenapa mereka menginginkan sesuatu dan mengapa mereka patut mendapatkannya. Dan orang yang diajak bicara tidak akan merasa dipaksa atau tersinggung karenanya. Hal tersebut sudah sangat natural untuk dilakukan oleh para salesman ini.
Selain orang-orang tersebut juga ada situasi yang memungkinkan epidemi terjadi. Situasi tersebut mengandung sesuatu yang bernama faktor kelekatan dan kekuatan konteks.
Faktor Kelekatan: ada sejumlah cara tertentu untuk membuat sebuah kesan mudah menular dan terus diingat; ada perubahan yang meskipun sederhana sekali baik dalam cara menyajikan maupun cara menyusun informasi yang dapat menghasilkan perbedaan besar dari segi dampaknya. Faktor kelekatan menyiratkan perubahan atau aksi harus langsung dan berulang-ulang, karena untuk memicu epidemi, gagasan harus mudah diingat dan merangsang orang untuk berbuat sesuatu. Sayangnya di abad informasi ini, segala sesuatunya telah banyak diulang dan hal ini menimbulkan masalah pada faktor kelekatan.
Kekuatan Konteks : Adanya sifat masyarakat untuk memiliki “masalah kecenderungan menjadi penonton” atau bystander problem. Dengan kata lain, kemampuan seseorang untuk memiliki tanggung jawab tergantung pada beberapa jumlah orang yang berada bersamanya pada saat suatu peristiwa terjadi. Kekuatan konteks mengatakan bahwa dibanding kelihatannya, orang sesungguhnya jauh lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Kekuatan konteks mebicarakan bagaimana suatu lingkungan mempengaruhi sesorang. Seperti halnya teori broken windows dimana dalam teori tersebut, terdapat suatu ide bahwa kejahatan-kejahatan kecil yang biasa dilakukan oleh seseorang akan mengarahkan orang tersebut ke kejahatn yang lebih besar dan semakin besar. Namun sebenarnya teori broken windows tersebut tidak hanya berlaku untuk kasus kejahatan saja.
Kekuatan Konteks juga membicarakan tentang Angka Seratus Lima Puluh yang Ajaib, yakni suatu anggapan bahwa jumlah maksimal karyawan atau anggota di suatu organisasi adalah 150. Jumlah yang lebih daripadanya akan menimbulkan kerenggangn diantara karyawan dan memecah nilai kekeluargaan dan keefektifan di dalamnya. Jika jumlah karyawan di perusahaan Anda mencapai lebih dari 150, pecahlah atau kembangkanlah perusahaan tersebut menjadi dua bagian perusahaan baru yang terpisah.
Kesimpulannya, Tipping Point adalah penegasan kembali tentang adanya potensi untuk berubah dan dahsyatnya suatu langkah yang tepat. Walaupun dunia kelihatan mustahil untuk dirubah, namun dorongan yang ringan di tempat yang tepat mampu membuat apapun dapat kita ungkit.
Komentar:
Buku favorit saya ini sebenarnya memaparkan teori yang tidak terlalu populer di Indonesia. Tapi teori yang dikemukakan sangatlah benar dan brilian. Buku ini memberitahu kepada kita kunci untuk menyebarkan trend yang dapat digunakan oleh civitas PR, dan dunia komunikasi serta masyarakat luas.
Terlebih, buku ini memberikan banyak contoh-contoh yang memang sengaja tidak saya masukkan kedalam resume. Setiap contoh yang dibeberkan akan menguatkan contoh sebelumnya, dan memberikan pemahaman lebih kepada kita akan teori yang telah dijabarkan sebelumnya.
Dengan demikian buku ini dapat digunakan untuk dibaca sehari-hari ataupun dipakai dalam penelitian ilmiah. Saya sangat menyarankan Anda untuk membaca buku ini secara langsung dan menikmati pembahasannya yang ditulis dengan ringan dan menarik.


Posted in small chat

Tags: ,

5 Comments »

  1. makasi, makasi, makasiihh… banget udah dikasih resume nya.
    Buku ini sudah beberapa bulan masuk dalam list buku yang akan saya baca, tapi selalu turun prioritasnya, karena ada buku lain yang lebih menarik :D

    Comment by pratanti — November 8, 2007 @ 4:52 am

  2. kalau kamu suka psikologi, kemungkinan besar bakal suka sama buku ini. Maaf ya, nulisnya gak ngalir en resumenya kepanjangan, tapi tetep seru kok baca bukunya langsung karena ada banyak contoh2 yang bikin buku ini idup..
    happy reading,Anita!

    Comment by thecozycorner — November 8, 2007 @ 3:19 pm

  3. very interesting.
    i’m adding in RSS Reader

    Comment by music — January 8, 2008 @ 3:34 am

  4. Buku ini yang membuat saya berlama-lama berdiri di Gramedia :)

    Belum sempat membeli …

    :(

    Comment by chai — March 28, 2008 @ 10:15 am

  5. Hehe..buku ini juga ndak kubeli,
    tapi minjem dari kamar adek..

    didoain deh biar cepet dapet buku yang disuka…hehe!
    nice day,Chai!
    :)

    Comment by thecozycorner — March 30, 2008 @ 8:23 pm


Say something?Comments RSS TrackBack URI