Termangu aku dalam kotak kosong…
Sudah hilang semua harga diri,
Tapi toh kini tak lagi ada yang peduli
Mengalirlah memoar cerita tentang seorang putri yang hidup bahagia selamanya
Dalam sebuah istana yang membuat semua terpana
Dengan istal dan kuda-kuda gagah mereka
Dengan sang pangeran tampan yang tak bisa ditembus api
Raja dan permaisuri yang bijak dan berbahagia
Serta tikus-tikus kecil di gudang lumbung padi emas mereka
Tapi kenapa semua harus bahagia?
Mana nyawanya?
Bukankah hidup hanya sebuah perjalanan
Bukan sekedar tawa canda dan bahagia
Hidup hanya perjalanan
Menembus pikir kita tentang sedih, duka dan senang ria
Lalu apa ujung jalan kita..?
Tak ada lagi zona nyaman di titik khayal batas diriku
Hanya kotak kosong yang tak bisa kutinggal pergi
Dan satu perut lapar tanpa harga diri
Lucu mengingat bagaimana orang menyamakan harga diri dengan nilai kehidupan. Semua orang berpikir bahwa keduanya sama. Mereka bilang pelacur tidak punya harga diri. Padahal tidak semua begitu. Beberapa lacur dengan harga diri tinggi menaruh nilai hidup mereka pada titik dimana orang lain tak bisa melihatnya. Keluarga mereka, misal. Tapi tak ada kebenaran yang absolut. Semua hanya kata-kata yang terjungkal keluar dari sel kelabu di kepala yang sok pintar.
Seperti seorang pujangga yang bersyair tentang omong kosong yang tak ia mengerti.
Hilang sudah harga diri dari nilai yang lampau
Kenapa kini aku harus bangkit?
…..Salah!…….
Pertanyaan yang salah!
Bagaimana caraku bangkit?
Nilai-nilai….Kucari nilai hidupku hingga mengiba..
Tapi bukan ini saat untuk menyerah, karena hidup tanpa kata menyerah memberi kita satu tambahan nyawa lagi untuk tertawa dan bertahan tak jadi gila.
Mungkin itu sebabnya kucing tak lagi punya 9 nyawa?
Bogor, 11 Desember 2006
Flickr Photos
|
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog at WordPress.com.